Kebiasaan Buruk Masyarakat yang Jadi Pengganjal Pariwisata Indonesia

Redaksi Minggu, 16-07-2017 | 17:00 WIB Destinasi
sampahbatam.jpg Ilustrasi Sampah berserakan di bawah bak sampah di TPS Jalan Pemuda Batam Center, Senin (30/3/2015) pagi, padahal Batam adalah salah satu tujuan pariwisata Indonesia (Foto: BATAMTODAY.COM)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Perkembangan pesat pariwisata Indonesia tampaknya masih terkendala kesan buruk dari beberapa sektor, antara lain kebiasaan buruk masyarakat Indonesia yang suka membuang sampah sembarang.

Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya menyebutkan bahwa hal yang selalu menjadi kendala citra pariwisata Indonesia di mata dunia ialah environmental sustainability dan health & hygiene.

"Environmental sustainability kita terlihat dari sampah yang berserakan di mana-mana, gunung, pantai, candi. Masih banyak sampah, kalau nemu silahkan dikritisi. Ini berbicara tentang kebiasaan masyarakat kita," tandas Arief Yahya saat acara penandatanganan Addendum MoU Kementerian Pariwisata dengan AccorHotels di Jakarta kemarin.

Ia mengatakan sampah plastik kita terburuk kedua di dunia. Jadi jangan berharap destinasi-destinasi akan bersih jika kebiasaan masyarakatnya masih kotor.

"Sebagian besar masyarakat kita memang meyakini kalau kebersihan merupakan sebagian dari keyakinannya. Tapi kondisi realitasnya begini," ujarnya.

Selain masalah lingkungan yang menjadi kendala promosi pariwisata Indonesia, Arief menambahkan isu kesehatan dan higienitas. Hal itu tercermin dari keadaan kamar mandi di berbagai destinasi wisata.

Seringkali kebersihan kamar mandi menjadi citra buruk pariwisata Indonesia di mata wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik.

Ia pun mengaku pernah disindir dalam forum pariwisata dunia, yang mengatakan jika ingin melihat kebudayaan suatu bangsa datanglah ke toilet-toiletnya di tempat umum.

Menurutnya, toilet akan lebih baik dikelola oleh pebisnis atau swasta. Dengan perhitungan bisnis maka toilet tersebut bisa menguntungkan dari segi pariwisata maupun ekonominya.

"Selama toilet itu masih dikelola dinas ini dan dinas itu, kenyataannya selalu begitu. Maka akan lebih baik dikelola secara bisnis. Pertimbangannya adalah bisnis bukan sosial, maka mereka akan membangunnya dan dirawat, sehingga tidak memalukan," ujarnya.

Sumber: Kompas.com
Editor: Surya