Festival Pulau Penyengat Diklaim Mampu Datangkan 10 Ribu Wisman

Habibi Khasim Rabu, 21-02-2018 | 12:02 WIB Event
renni-1.jpg Kadisparbud Tanjungpinang, Reni Yusneli bersama pemenang lomba foto yang diadakan dalam semaraknya FPP. (Foto: Habibi Khasim)

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang telah merampungkan kegiatan Festival Pulau Penyengat (FPP). Kegiatan yang dilakukan sejak 14-18 Februari ini diklaim berjalan sukses.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang, Reni Yusneli berani mengklaim wisatawan yang hadir dalam acara tersebut berjumlah 10 ribu orang.

"Kami menaksir ada sekitar 10 ribu wisatawan datang ke Penyengat selama gelaran FPP," sebut Reni, Rabu (21/2/2018).

Reni juga mengatakan, jumlah tersebut bukanlah sekedar statistik semata. Dia mengaku yakin bahwa FPP mampu mendongkrak jumlah wisatawan ke Penyengat.

Hal ini membuat dia semakin optimis ke depan dalam menyelenggarakan FPP. "Kami tentu ingin tampil beda setiap tahun. Lebih besar, lebih baik, dan lebih istimewa. Kami juga akan menggandeng banyak pihak untuk tahun depan," ujar Reni.

Sementara itu, bagi Penjabat Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza, gelaran FPP 2018 merupakan pembuktian bahwasanya festival yang dikemas dalam semangat kepariwisataan menjadi daya tarik bagi kedatangan wisatawan.

Ariza berharap, FPP bisa terus ada dan menjadi agenda wajib tahunan Pemko Tanjungpinang. Selain itu, agar tidak menimbulkan kebosanan, juga perlu dipikirkan format baru dan berbeda dalam penyelenggaraan FPP kedepannya.

"Dengan begitu, turis selalu semangat datang ke sini. Kemas festival ini dengan format baru, tanpa meninggalkan ciri khas budaya Melayu, tampilkan seni dan budaya, serta khazanah yang ada di Pulau Penyengat Tanjungpinang, sehingga FPP lebih dikenal di kancah nasional dan internasional," kata dia.

Bagi Ariza, FPP adalah kegiatan kepariwisataan yang spesial. Sebab festival ini, kata dia, dapat mempersatukan serumpun Melayu di Asia Tenggara di Pulau Penyengat yang memang punya pertalian sejarah panjang dengan rumpun Melayu sejak berabad-abad lalu.

Editor: Gokli